Sejarah PKI atau Partai Komunis Indonesia merupakan salah satu bagian paling kompleks dan kontroversial dalam catatan perjalanan Republik Indonesia. Sebagai salah satu organisasi politik tertua di tanah air, PKI pernah tumbuh menjadi salah satu partai komunis non-penguasa terbesar di dunia. Perjalanan partai ini mewarnai dinamika politik nasional mulai dari masa pergerakan kemerdekaan, era revolusi fisik, hingga berakhir secara tragis pada pertengahan tahun 1960-an. Memahami sejarah PKI berarti melihat bagaimana ideologi global bersinggungan dengan semangat nasionalisme Indonesia pada masa itu.

Awal Mula Berdirinya Organisasi

Akar sejarah PKI bermula dari pembentukan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) pada tahun 1914 oleh seorang sosialis Belanda bernama Henk Sneevliet. Organisasi ini bertujuan untuk menyebarkan paham marxisme di wilayah Hindia Belanda. Sneevliet kemudian menggunakan strategi infiltrasi dengan masuk ke dalam organisasi besar seperti Syarikat Islam (SI).

Strategi ini memicu perpecahan dalam tubuh SI menjadi “SI Putih” yang religius dan “SI Merah” yang berhaluan kiri. Pada tanggal 23 Mei 1920, para tokoh kiri seperti Semaun dan Darsono akhirnya mendirikan Perserikatan Komunis di Hindia (PKH), yang kemudian berubah nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1924.

Pemberontakan 1926 dan Masa Vakum

PKI tercatat melakukan perlawanan bersenjata pertama melawan pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1926 di Jawa dan 1927 di Sumatra. Namun, pemerintah kolonial berhasil menumpas aksi tersebut dengan cepat. Dampaknya, Belanda melarang eksistensi PKI dan membuang ribuan anggotanya ke kamp tahanan Digul, Papua. Selama masa pendudukan Jepang, PKI bergerak secara bawah tanah untuk menghindari tekanan militer penjajah yang sangat ketat terhadap aktivitas politik kiri.

Dinamika PKI di Era Kemerdekaan dan Peristiwa Madiun 1948

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, para tokoh PKI kembali ke panggung politik nasional. Namun, ketegangan antara PKI dan pemerintah pusat memuncak pada tahun 1948. Di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari Belanda, terjadi peristiwa besar yang dikenal sebagai Peristiwa Madiun.

Musso, yang baru kembali dari Uni Soviet, memimpin upaya pembentukan Republik Soviet Indonesia di Madiun. Pemerintah Indonesia di bawah pimpinan Soekarno dan Hatta segera mengambil tindakan tegas melalui operasi militer. TNI berhasil memadamkan pemberontakan tersebut dan mengeksekusi banyak tokoh utama PKI, yang membuat partai ini sempat mengalami kelumpuhan organisasi.

Masa Kebangkitan di Bawah Kepemimpinan D.N. Aidit

PKI secara mengejutkan berhasil bangkit kembali dalam waktu singkat di bawah kepemimpinan tokoh muda seperti D.N. Aidit, Njoto, dan Lukman. Aidit melakukan modernisasi partai dan menjauhkan citra PKI dari cara-cara kekerasan fisik, serta lebih fokus pada penggalangan massa di akar rumput melalui organisasi sayap seperti Barisan Tani Indonesia (BTI) dan SOBSI.

Keberhasilan strategi ini terlihat nyata pada Pemilu 1955. PKI berhasil menempati posisi empat besar partai pemenang pemilu setelah PNI, Masyumi, dan NU. Pencapaian ini mengukuhkan posisi PKI sebagai kekuatan politik yang sangat berpengaruh dalam pemerintahan Presiden Soekarno yang mengusung konsep Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme).

Ketegangan Politik dan Peristiwa G30S

Pada awal tahun 1960-an, pengaruh PKI semakin meluas hingga ke sektor kebudayaan dan birokrasi. Hal ini memicu ketegangan tajam dengan angkatan darat dan partai-partai berbasis agama. Konflik mengenai “Angkatan Kelima” dan isu reformasi agraria semakin memanaskan suhu politik nasional.

Puncak dari sejarah PKI terjadi pada malam 30 September 1965. Sebuah gerakan militer yang menculik dan membunuh enam jenderal senior angkatan darat dituduhkan kepada PKI sebagai dalang utamanya. Meskipun perdebatan sejarah mengenai pelaku sebenarnya masih berlangsung di kalangan akademisi, peristiwa ini menjadi titik balik yang menghancurkan seluruh struktur partai.

Pembubaran dan Pelarangan Sejarah PKI

Setelah peristiwa G30S, Mayor Jenderal Soeharto mengambil alih kendali keamanan dan melancarkan operasi pembersihan besar-besaran. Gelombang kekerasan terhadap anggota dan simpatisan PKI terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Akhirnya, pada tanggal 12 Maret 1966, pemerintah secara resmi membubarkan PKI. Keputusan ini kemudian diperkuat melalui Ketetapan MPRS Nomor XXV Tahun 1966 yang melarang penyebaran paham komunisme, marxisme, dan leninisme di seluruh wilayah Indonesia hingga saat ini.

Kesimpulan Mengenai Sejarah PKI

Sejarah PKI memberikan pelajaran berharga tentang betapa kerasnya pertarungan ideologi dalam politik Indonesia di masa lalu. Partai ini pernah menjadi bagian dari perjuangan melawan kolonialisme, namun sekaligus terlibat dalam konflik internal yang berdarah dengan sesama anak bangsa. Hingga kini, memori kolektif mengenai PKI tetap menjadi isu sensitif yang terus mewarnai diskusi sejarah dan politik di Indonesia. Mengenal sejarah ini membantu generasi muda memahami latar belakang terbentuknya tatanan politik nasional yang kita jalani saat ini.